Blogger Widgets The king Of fou lou

Selasa, 01 November 2011

BAB II
PEMBAHASAN
Teknik Penjelajahan Masalah
A. Refleksi
Refleksi suatu jenis tehnik konseling yang sangat penting dalam hubungan konseling.Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya.Sebab hal itu dapat digunakan dalam menangkap perasaan, pikiran dan pengalamn klien kemudian memreflesikan kepada klien kembali.hal ini harus dilakukan oleh seorang konselor sebab seorang klien sering tidak menyadari akan perasaan, pikiran, dan pengalaman yang mungkin klien akan mengubah perilakunya ke arah yang positiv.
Terdapat tiga jenis refleksi, yaitu :
Refleksi perasaan merupakan keterampilan konselor untuk merespon keadaan perasaan klien terhadap situasi yang sedang dihadapi..Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah ….”
Refleksi pikiran, yaitu teknik untuk memantulkan ide, pikiran, dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…”
Refleksi pengalaman, yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…”
Menurut sofyan S. Willis refleksi merupakan keterampilan konselor untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan dan pikiran klien sebagai hasil pengamatan terhadap prilaku klien sebagai hasil pengamatan terhadap prilaku verbal dan non verbal.
Refleksi perasaan merupakan keterampilan konselor untuk merespon keadaan perasaan klien terhadap situasi yang sedang dihadapi. Kemampuan ini akan mendorong dan merangsang klien untuk mengemukakan segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapinya.  Merefleksi perasaan klien merupakan suatu teknik yang ampuh, karena melalui tindakan keterampilan tersebut akan terwujud suasana keakraban dan sekaligus pemberian empati dari konselor kepada klien. Esensi dari keterampilan ini adalah untuk mendorong dan merangsang klien agar dapat mengekspresikan bagaimana perasaan tentang situasi yang sedang dialami.
Aspek-aspek keterampilan refleksi perasaan adalah:
1.    mengamati prilaku klien, pengamatan ini terutama ditunjukan pada postur tubuh dan ekspresi wajah klien.
2.     mendengar dengan baik , penekanannya pada usaha mendengarkan dengan cermat intonasi suara klien dan kata-kata yang diucapakan.
3.    mengahayati pesan yang dikomunikasikan klien, tindakan ini dimaksudkan  untuk memahami dan menangkap isi pembicaran klien.
4.    mengenali perasaan-perasaan yang dikomunikasikan klien .
5.     menyimpulkan perasaan yang sedang dialami klien
6.     menyelesaikan kata-kata yang tepat untuk melukiskan perasaan klien
 mengecek kembali perasaan klien.

a. Materi refleksi
    Dalam tehnik refleksi seorang konselor dapat menggunakan beberapa materi atau pun beberapa contoh latihan.adapun materi latihan  tersebut adalah sebagai berikut :
mengamati bahasa lisan klien
mengamati perilaku non verbal
setelah itu baru memrefleksikan perasaan, pikiran atau pengalaman klien.
     Dengan ini mempermudahkan konselor untuk merefleksikan pikiran, perasaan dan pengalaman klien.refleksi dapat tercapai jika dalam  konseling terdapat keterbukaan, kerelaan, tidak ada ketegangan, kedekatan dan obyektivitas.
b. Manfaat refleksi
1. membantu individu untuk merasakan dipahami secara mendalam
2. klien merasa bahwa perasaan akan menyebabkan tingkahlaku
3. memusatkan evaluasi pada klien
B. Penafsiran
Penafsiran adalah , penjelasan tentang sesuatu keadaan dalam konseling yang di maksudkan untuk membantu konseli agar dapat memahami arti dari kejadian- kejadian dengan menyajikan beberapa pandangan menjiluki kebenaran dengan masalah klien.
Interprestasi adalah keterampilan atau tehnik yang digunakan oleh konselor dimana atau karena tingkah laku klien ditafsirkan / diduga dan mengerti dengan komunikasikan pada klien.selain itu dalam interprestasi konselor menggali dan makna yang terdapat dibelakang kata-kata klien atau dibelakang perbuatan / tindakannya yang telah diceritakannya.bertujuan membantu klien lebih memahami didiri sendiri bila man klien bersedia mempertimbangkannya dengan pikiran terbuka.
Misal :
Ki: saya benar-benar merasa cemas tentang hubungan saya dengan guru itu , saya membencinya, kelasnya, tugas-tugas yang di berikanya, saya sangat kawatir dengan sikap sasya”.
Ko:”kamu ada masalah dengan guru dan kamu tidak menginkanya”.
Ko:”kalau begitu sesungguhnya anda tidak menginginkanya, perasaan benci anda pada guru anda, benarkah demikian?
C. Keterampilan Konfrontasi
Konfrontasi dalam wawancara konseling dimaknai sebagai pemberian tanggapan terhadap pengungkapan kontradiksi dari klien. Konfrontasi yang efektif tidak menyerang klien, tetapi merupakan tanggapan khusus dan terbatas tentang perilaku klien yang tidak konsisten. Penggunaan keterampilan ini mensyaratkan beberapa tingkat kepercayaan dalam hubungan konseling yang telah dikembangkan melalui keterampilan-keterampilan lain. Nada suara, cara mengintroduksi konfrontasi, sikap badan dan ekspresi wajah, serta tanda-tanda non verbal lainnya merupakan faktor-faktor utama dalam menerapkan keterampilan ini.
Contoh-contoh materi yang secara umum diberikan konfrontasi dalam proses konseling adalah:
a. Kontradiksi antara isi pernyataan dan cara mengatakan.
Konselor: ”Bagaimana khabar Anda hari ini?”
Klien   : Oh..(suara datar) dalam keadaan baik-baik saja” (suara rendah, sikap dan posisi tubuh tampak gelisah)
Konselor: ”Anda mengatakan baik-baik saja, tetapi suara dan sikap Anda nampak menunjukkan kegelisahan?”
b. Tidak konsisten antara apa yang diinginkan dan apa yang dilakukan oleh klien.
c. Tidak konsisten antara apa yang dikatakan klien dengan reaksi yang diharapkan oleh    konselor.
D. Suasana Diam
Teknik silence digunakan konselor ketika klien pun sedang diam. Klien menjadi diam dalam suatu percakapan, disebabkan :
a. Klien kehabisan energi untuk melanjutkan pembicaraan.
b. Klien tidak tahu apa yang harus diungkapkan berikutnya.
c. Klien mengalami resistensi (keraguan/ketidakpercayaan pada konselornya).
Menghadapi klien seperti ini, konselor pun seharusnya ikut diam sejenak untuk memberi kesempatan memikirkan apa yang dilakukan kemudian. Waktu klien diam biasanya sekitar 1-2 menit, setelah itu pada umumnya klien akan merasa terganggu dengan adanya konselor yang juga diam, sehingga klien akan terdorong untuk berbicara kembali.
E. Ajakan untuk membicarakan sesuatu yang lain
Suatu tehnik yang di gunakan bila konseling mengalami jalan buntu. Digunakan bila klien bersikukuh dengan pendapatnya sementara memungkinkan untuk itu sulit dan susah untuk di dapatkan, misalnya:”maslah karir, belajar, melanjutkan pendidikan. “sesorang yang telah lulus SLTA , ingin melanjutkan pendidikan, pada jurusan Kedokteran, dia sudah memasukan lamaran(tetapi tidak ada di terima , tetapi ia tetap bertahan pada jurusan dan kampus tersebut, padahal disana saingan begitu berat.
Jalannya:” di fakultas lain masih banyak yang menerima mahasiswan jurusan kedokteran”
“masih banyak jalan  lain yang bisa anda lakukan “
F. Menyimpulkan
Menyimpulkan merupakan suatu proses menyatukan semua yang telah dikomunikasikan selama bagian tertentu atau seluruh pertemuan konseling. Dengan menyimpulkan itu, venyuluh dank lien sama-sama berusaha mengangkat pokok-pokok utama dari masalah yang dibicarakan dengan mengemukakan apa yang sudah dikerjakan (dijelajahi) dan apa yang belum. Menyimpulkan secara alami merupakan cara untuk mengakhiri atau menutup satu bagian atau tahap pembicaraan tertentu atau untuk memulai sesuatu yang baru. Membuat kesimpulan tidak harus dilakukan oleh konselor, tetapi sering lebih efektif bila dilakukan oleh klien. Hal ini memungkinkan konselor memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang pandangan klien terhadap berbagai hal dan membantu klien melihat kemajuan-kemajuan apa yang telah dicapainya.
Ketika menyimpulkan, konselor harus berusaha menggaris bawahi hal-hal yang sangat menonjol, menyatakan dalam bahasa yang mudah dimengerti dan sederhana, dan akhirnya memberi memberi tanggapan terhadap sampai sejauh mana ketepatan kesimpulan yang telah dibuat itu.
Misalnya :
Mari kita coba menyatukan semua yang telah kita bicarakan, pada suatu segi kamu merasa kesepian dan terpisah dari teman-teman. Pada segi yang lain, kamu mengatakan bahwa kamu mendapatkan kesukaran untuk bergaul. Jadi, sekalipun kamu ingin berkenalan dengan yang lain, tetapi tidak mudah memulainya. Benarkah demikian?” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar